Bialetti Mukka Express

Hmmmh… aroma cappuccino menyapa embun pagi, merangsang jiwa melalui indera. Kopi yang berbalut susu menemani, kantuk yang menyeruak pun perlahan merayap pergi seiring memudarnya hawa dingin. Senyum pun tiba bersama kepuasan. Kepuasan membawa kebahagiaan. Ah ini dia kind of morning that gonna last ’till afternoon. Pagi hari yang ceria biasanya terbawa hingga senja.

Caswell's Mukka Express

Alat sederhana ini sudah menemani saya lebih dari setengah tahun. Dulu saya dapatkan alat ini di sebuah departemen store yang sedang sale. Banderol harga saat itu terpaut cukup jauh dengan banderol harga Mukka Express sekarang. Cappuccino yang dihasilkan memang bukan jawara tetapi konsistensi rasa yang dihasilkan, membuat saya jatuh hati. Tidak sreg rasanya jika pagi hari tidak diawali dengan secangkir cappuccino hangat.

Bagaimana cappuccino yang dihasilkannya? Well, bisa dideskripsikan sebagai cappuccino rumahan, milk foam melimpah namun kasar. Banyak butiran udara dan bergantung pada susu yang digunakan. Semakin segar susunya maka semakin bagus dan banyak milk foam yang dihasilkan. Favorite saya menggunakan Greenfields. Pernah menggunakan menggunakan susu U*t*a namun kecewa. Yah jadi kalau Greenfields tidak ada maka pilihannya hanya susu Indomilk atau Diamond. Ingat, susu segar itu tidak tahan lama. Selalu pilih susu yang basi dalam beberapa hari.

Mukka Express menggunakan prinsip yang sama dengan Moka Pot, yaitu memanfaatkan uap/steam untuk mengekstrak bubuk kopi. Pada Mukka, steam dimanfaatkan pula untuk menghasilkan milk foam. Jika dibandingkan dengan jajaran produk Bialetti lainnya, alat ini memiliki teknologi mekanis yang paling maju namun tidak demikian halnya dengan kualitas kopi yang dihasilkan. Selain Cappuccino, Mukka Express bisa dipakai untuk membuat Latte dan kopi kental seperti pada Moka Pot. Nah, jika hanya dipakai membuat kopi.. kopi yang dihasilkan Mukka selalu punya ciri khas, yaitu aroma smoky yang kuat. Saya sendiri kurang suka karena selera saya adalah mencium harumnya kopi, bukan asap. So I prefer Brikka to make a cup of intense coffee.

Icip-Icip Kopi “Cup of Excellence”

Akhirnya sudah diputuskan, acara icip-icip kopi “Cup of Excellence” akan diadakan hari Rabu, 29 Juli 2009 di Gudeg Yu Nap, Bandung. Pesertanya maksimal 10 orang dan masih tersisa 3. Semuanya dari teman-teman JalanSutra.

The Cup of Excellence is the most esteemed award given out for top coffees. These awards come from a strict competition that selects the very best coffee produced in that country for that particular year. These winning coffees are chosen by a select group of national and international cuppers and are cupped at least five different times during the competition process. Only coffees that continuously score high enough are allowed to move forward in the competition. The final winners are awarded the prestigious Cup of Excellence® and sold to the highest bidder during an internet auction.
Selengkapnya di sini

Kopi-kopi “Cup of Excellence” yang akan dicoba adalah :

1. Rwanda Cup of Excellence (CoE) Sovu Maraba

Sekilas tentang kopi ini antara lain diberi nilai 91,4 dari total 100 oleh 5 orang Cupper. Panen pada Maret 2009 dan total produksi hanya 60 kg. Disarankan diseduh dengan vacuum pot / syphon filter, namun di acara nanti akan diseduh “tubruk”.

2. El Salvador La Montanita Pacamara

Nilai 88,8 dari 100 oleh 5 cupper, kopi ini berasal dari varietas Pacamara. Dibeli dengan harga 1 lb = $ 6,40. Kopi ini pernah menjadi Juara 2 di Cup of Excellence 2006. Disarankan diseduh dengan Vacuum Pot.

3. Costa Rica Lourdes de Naranjo Herbazu

Sekilas tentang kopi ini adalah meraih Total nilai 90,9 dari 100 oleh 5 Cupper dan dipanen Juni 2009. Dibeli harga 1 lb = $ 5,90. Kopi ini juara 4 CoE 2009 dan berasal dari varietas Villa Sarchi. Disarankan diseduh dengan Vacuum Pot.

Semua tulisan di atas akan kita buktikan bersama hari rabu ini. Perlu ditekankan bahwa kopi enak itu sangat personal, jelas akan berbeda setiap pilihan orang. Jangan biarkan penilaian di atas mengintimidasi pilihan kita. Semua itu hanyalah referensi kita, teman saya pernah bilang, “Good Judgement comes from Good Reference, Good Reference comes from A Bad Judgement”.

Kopi tak harus selalu seperti kata orang Turki, “Dark as Hell, Strong as Death, Sweet as Love”. Kopi itu bisa saja, “Bright as Sun, Smooth as Feather, Complex as Women”. Well, let’s prove it on Wednesday ;) Salute!

Ulasan 13 kopi Indonesia

Beberapa waktu lalu saya dan rekan-rekan dari JalanSutra menghadiri acara icip-icip kopi Indonesia yang jadi kontestan Cup Of The Year-nya Specialty Coffee America Asosiation (SCAA) tahun 2009. Cup of The Year adalah kompetisi reguler tahunan yang diadakan di Amerika untuk mengangkat kopi kopi spesial dari seluruh dunia.

Terminologi “Specialty Coffee” digunakan pertama kali oleh Erna Knutsen di tahun 1974 dalam sebuah jurnal “Tea & Coffee Trade Journal” untuk menggambarkan biji kopi dengan rasa terbaik yang hanya dihasilkan di daerah dengan iklim tertentu. Specialty coffee erat sekali dengan istilah gourmet atau premium coffee bahkan menurut SCAA hanya kopi yang memiliki nilai antara 80 keatas dalam skala 100. Specialty coffee terbatas kuantitasnya dan berasal dari lahan yang terbatas pula luasannya. Terbatasnya kopi menyebabkan specialty coffee tidak diperuntukkan untuk diolah menjadi kopi bubuk kemasan secara industrial.

Acara icip-icip diadakan di cafe etcetera jl. Sultan…. Bandung. Silahkan cari di arsip untuk membaca lebih lanjut tentang acaranya ;) tulisan kali ini akan lebih menitik beratkan pada cita rasa setiap kopi yang kami coba. Mulai dari sampel kopi #1 sampai #13 minus sampel nomor 4 yang ternyata habis tak bersisa. Harap diingat bahwa saya belum bisa dikategorikan ahli dalam mencicipi kopi sehingga apa yang ada di tulisan ini mengenai cita rasa kopi adalah murni penilaian lidah saya sendiri. Tentunya Ada perbedaan pula dengan teman-teman yang hadir pada malam itu.

Sampel #1 Sumatera Mandheling Organic

Mirip dengan kopi Jamaika. Aroma setelah digiling dan sebelum diseduh mengingatkan pada harum kacang tanah (nutty) dan harum kayu (wood). Jamaika sendiri dikenal dengan kopi Jamaican Blue Mountain dengan cita rasa seimbang (Balanced) dan aromatik. Nah kopi no 1 ini juga punya cita rasa seimbang, rasa asam nya menyenangkan serupa dengan asam jeruk dengan aftertaste yang bersih, body-nya masuk kategori ringan (Light). Kopi ini saya beri 3 dari 5 bintang.

Sample #2 Flores Bajawa

Kopi ini lebih naik acidity nya namun masih balanced. Tidak ada karakter yang terlalu menonjol. Body ringan dan aromanya sangat earthy. Menurut saya kopi ini lebih balanced dibandingkan dengan sebelumnya. After taste kopi ini tergolong clean. Saya beri 3,5 dari 5 bintang.

Sampel #3 Sumatera Juma Roba (Seribu Dolog)

Semerbak tauco menyeruak dari kopi yang satu ini, tercium juga sedikit aroma tanah. Body- nya ringan namun lebih asam dibandingkan dua kopi sebelumnya. Aftertaste-nya mirip dengan sekali dengan aftertaste setelah makan kacang. Lekat di mulut, tidak clean. Saya beri 2,5 dari 5 bintang.

Sample #4

Tidak dicoba malam itu sehingga tidak ada penilaian.

Sample #5 Flores Flores Organic

Mencium aromanya saya menduga kopi ini dari Sumatra. Ada ciri-ciri khasnya, antara lain aromanya merupakan paduan dari tanah, kayu sedikit aroma asam dari buah. Body-Nya medium dan aftertaste yang tidak bersih. Flavour-nya saya beri 3 dari 5 bintang.

Sampel #6 Sumatera Sumatra Blend

Sampel ini memiliki aroma herbal yang kuat, seperti bau daun pahit yang diremas-remas. Namun tercium juga aroma jagung manis rebus. Body-nya medium dan memiliki rasa asam yang menyenangkan. Aftertaste-nya clean dan manis. Overall untuk flavour-nya saya beri 4 bintang dari 5 bintang.

Sample #7 Flores Blue Flores

Kopi ini memiliki aroma paling kuat, very strong. Ada sedikit harum herbal dan kacang tanah. Tercium harum asam jeruk nipis. Sepertinya akan enak.. namun setelah dicoba rasanya, ternyata sangat mengecewakan. Body-nya ringan dan aftertaste yang asam. Flavour-nya saya beri 2,5 dari 5 bintang.

Sample #8 Java Andungsari

Aroma tanah dan mirip sekali dengan aroma espresso roast. Tercium juga aroma kacang. Kopi ini punya body yang full, tingkat acidity yang rendah dan aftertaste pahit. Cocok dinikmati bersama gula. Flavour-nya saya beri nilai 3 dari total 5 bintang.

Sampel #9 Java Blue Java (Kayu Mas)

Sangat mirip dengan kopi nomor 7. Kopi yang ini aromanya kuat, samar-samar mirip sekali dengan aroma karet. Acidity-nya rendah, body-nya full dan sangat chocolaty. Aftertaste cenderung pahit dan tidak clean. Kopi ini dapat nilai 3 dari total 5 bintang.

Sampel #10 Sumatera Aceh Gayo

Untuk saya kopi ini adalah juara malam itu. Aromanya sangat woody dan ada jejak herbal. Body-nya tergolong Full dan acidity-nya sangat mengingatkan pada mangga Fan Lan. Kopi ini punya aftertaste yang manis seperti madu sumbawa. Campurkanlah 1 sendok makan madu ke dalam 200ml air maka kurang lebih begitulah rasa kopi ini. Terus terang saat mencobanya, saya tidak pernah menduga ini kopi Aceh. Karakteristik kopi ini sangat berbeda dengan kopi-kopi Sumatera yang pernah saya coba :) untuk nilai, kopi ini saya beri nilai 5 dari 5 bintang. Untuk saya, flavour-nya outstanding ;)

Sampel #11 Sulawesi Toraja

Nah kopi ini punya aroma asam yang kuat, aroma asam kulit jeruk bercampur aroma tanah basah saat hujan. Body-nya medium dan acidity-nya rendah. Aftertaste-nya sepat jambu dan menempel di mulut. Flavour-nya dapat nilai 3 dari 5 bintang.

Sampel #12 Java Preanger

Yang ini sangat mengingatkan pada kopi nomor 9, aromanya sangat herbal bercampur aroma asam jeruk nipis. Body-nya light dan aftertaste-nya clean. Overall kopi ini cukup baik. Flavour-nya saya beri 3,5 dari 5. Bagi saya walaupun kopi ini masuk kategori baik, rasanya terlalu datar. Jenis kopi yang setelah minum maka dengan mudah citarasanya terlupakan :)

Sampel #13 Bali Blue Moon (Kintamani)

Kacang tanah menjadi komponen yang dominan dalam aroma kopi yang belum diseduh ini. Kopi ini yang menjadi kontestan terakhir malam itu. Last but not least. Mengejutkan lagi aroma setelah diseduh aromanya sangat mirip dengan aroma roti gandum yang di-toast, benar-benar mirip! Lalu walau pada aroma tidak tercium asam, ternyata kopi ini punya acidity yang tinggi. Seiring penurunan suhu maka acidity semakain naik. Acidity-nya mirip jeruk nipis. Body-nya ringan dan aftertaste-nya sangat mirip dengan aftertaste setelah memakan jeruk Sunkist. Saya bayangkan kopi ini cocok sekali disajikan dingin dan diblender dengan es, hmmmhh yummy ;) Saya beri nilai 4 dari 5 untuk kopi ini :)

Nah demikianlah review pribadi dari seorang penikmat kopi. Saya belum jadi ahli dan masih belajar banyak. Semoga review ini menambah kecintaan dan keingintahuan terhadap kopi-kopi Indonesia yang sangat beragam. Forza caffe Indonesia!

“Cinta Kopi’ di La Tazza

Sabtu kemarin sebelas orang berkumpul di Cafe La Tazza Electronic City SCBD untuk berhadapan dengan beberapa alat penyeduh kopi. Kita membandingkan hasil seduhan Syphon Filter (merek Hario) – Tubruk – Moka Pot (merek Bialetti dan Forever) – Mesin Espresso Industrial merk ExpoBar (punya La Tazza bukan punya saya hehehe). Kopi yang digunakan adalah secret blend milik La Tazza sehingga jika ada perbedaan rasa maka bukan disebabkan kopi-nya melainkan metode seduhnya.

Hasil Syphon vs Tubruk
Kok kaya gim berantem yah hehehe ;p Dan pemenangnya menurut versi orang Cimahi (mode liat catetan : ON) adalah… Syphoon Filter Kopi yang dihasilkan punya aroma citrus yang ringan seperti aroma gelas setelah digunakan minum jus jeruk, body-nya terasa light, acidity-nya nendang (terutama seiring menurunnya suhu), dan overall menghasilkan flavour yang Bright. Menurut saya cocok dinikmati di pagi hari hehehe agar metabolisme jadi lancar gitu ^^’ Kopi tubruk menghasilkan spektrum rasa yang lebih lebar. Semua yang hadir sepakat penyebabnya adalah ampas bubuk kopi yang bersatu dalam gelas, berbeda dengan syphon yang tidak meninggalkan ampas. Tubruk menghasilkan aroma menarik ketika air panas menyentuh bubuk kopi dalam gelas, body-nya sedikit lebih berat dengan acidity yang lebih kalem seiring penurunan suhu. Flavour-nya setingkat dibawah syphon. Paling cocok bila diminum cepat saat suhu belum terlalu turun.

Kesimpulan :
Syphon filter cocok untuk menikmati kopi single origin karena mampu menghasilkan seduhan yang membuat lidah bisa merasakan keseluruhan karakter biji kopi. Sepertinya untuk alasan inilah mengapa Syphon Filter begitu digemari di Jepang. Sepakat dengan kang Irvan yang mengaitkan flavour makanan setempat dengan flavour kopi, biasanya keduanya berbanding lurus (makanan jepang cenderung ringan maka kopinya pun ringan, makanan padang berat maka kopinya pun berat). Ditambah lagi sepertinya orang Jepang menikmati proses assembly (baca : asemblai hehehe ya kan Kang Enrico ;p) syphon seperti merakit mobil atau mainan gundam hehehe. Rakit merakit memang seperti therapy (baca : terapi bukan terapai hahaha ;p) bagi sebagian orang, sebagian lagi merasa frothing milk sebagai therapy, seperti mbak Dyani, ya kan mbak? Toss, saya juga sama ;p

Moka Pot vs Industrial Espresso Machine
Biar ga kepanjangan nih tulisannya… Pemenangnya dengan pukulan KO 30 detik di ronde pertama adalah,,, espresso buatan Kang Adi yang menggunakan mesin espresso industrial dengan kapasitas boiler 6 liter CMIIW punya La Tazza yang mereknya saya lupa euy hehehe (ternyata belakangan saya tahu merk nya ExpoBar).. terbuai espresso-nya sih huehehe ^^’ juara nih espresso-nya. Buat saya orang cimahi, worth sekali datang ke La Tazza. Ini bintang episode kali ini. Namun bukan berarti Moka Pot jadi pecundang lho ;)  catetan saya, nilai seduh moka pot mendekati mesin espresso industrial, hanya minus crema. Apalagi harga alat yang terjangkau membuat moka pot jadi pilihan menarik.

Kesimpulan :
Bagaikan ending sinetron yang menggantung berjudul “Cinta Kopi” yang tayang di SCBD,,, maka dalam episode selanjutnya akan diungkap apakah hasil seduhan Brikka bisa mendekati espresso industrial? Bagaimana mesin espresso industrial vs mesin espresso rumahan? Jangan lewatkan episode berikutnya! ^^

P.S : oya ini link Neapolitan Coffee katanya www.ineedcoffee.com/06/moka/ mangga silahkan dicoba. Saya sudah coba, reviewnya menyusul bareng review Brikka. Brikka 2 cups juga sudah ada di depan saya, siap menemani nonton bola nanti
malam ;)

Espresso di Daily Bread

CaffeLovers,

Cita-cita untuk menikmati espresso seringkali tersandung masalah sumber dayamanusia alias barista-nya. Kata-kata Kang Adi mengenai faktor manusia dalam penyajian kopi memang benar adanya. Saya merasakan hal tersebut di Daily Bread jl.Ciliwung, Bandung. Hari Sabtu sekitar jam 7 malam, saya dan keluarga akhirnya merapat ke Daily Bread setelah menikmati hidangan khas Jogja di Bakmi Jogja Jl. Bengawan. Istri saya langsung sibuk memilih beberapa roti untuk dibawa pulang sementara saya berdiri di dekat kasir melihat menu yang terpampang. Gerimis yang menyiram Bandung malam itu membuat saya memesan espresso. Bayangan saya, alangkah nikmatnya jika malam yang dingin itu ditemani single shot espresso (karena kalau pesan cappucino sudah tidak ada tempat lagi di perut hahaha maklum ”satgas” makanan istri alias Satuan Jaga Sisa untuk ngabisin makanan istri ^^).

“Kopinya pakai apa Mas?”,tanya saya. “Portioli pak”,jawabnya. Saya pun akhirnya pesan single espresso sambil tetap berdiri di depan kasir. Pikirannya saya melayang bertanya-tanya karena baru pertama mendengar merk Portioli. Saya tanya lagi,”kok ga pake Illy, mas?”. Si mas pelayan yang belakangan saya tahu bernama Adi itu menjawab,”wah kalah pak Illy sama Portioli. Illy mah asem”. Saya tertegun sesaat mendengar jawabannya. Entah kenapa kok saya menangkap nada sok tahu di sana. “Pak ini kopinya”, tiba-tiba suaranya menyadarkan saya. “Wah cepet banget Mas?”, jawab saya agak heran sambil mendekatkan cangkir ke hidung dan mencium aroma espresso-nya. Si mas Adi tidak menjawab,dia hanya tersenyum. Saya melihat ke dalam cangkir dan…dan… Ternyata tidak ada crema di dalam cangkir itu!!. Jumlahnya pun banyak padahal saya pesan single. Ternyata si mas adi itu salah dengar. Dia keukeuh bilang saya pesan double. Ya daripada saya ribut saya pesan aja lagi single espresso karena espresso pertama kacau balau rasanya. Saya duga under extracted espresso-nya. Cremanya tidak ada dan didominasi rasa asam dan pahit saja. Menunggu si mas adi yang lagi bikin itu single espresso, saya bertanya pada oom gugel tentang Portioli. Hasilnya saya menemukan portioli.com dan menemukan cara membuat espresso mazhab Portioli. Seketika saya sumringah lalu tersenyum.

Saya tanya ke mas adi,”bisa tidak diset mesinnya?”. Sambil menyerahkan single espresso yang sudah jadi, dia menjawab,”tidak bisa pak”. “Ini mesin sudah diset dari sananya”,lanjutnya lagi. Yaaah.. Sumpah deh saya kecewa berat. “Bener nih mas, ga bisa diset?”, saya mencoba meyakinkan. “Tidak bisa pak”,jawabnya. “Kenapa pak? Rasanya tidak enak?”, dia balik bertanya. “Iya,ini ekstraksinya kecepetan kayanya. Rasanya dominan asem dan pahit datar. Body-nya tipis dan crema-nya tidak keluar”,saya mencoba menjelaskan kepada si mas adi yang seketika menyambut saya dengan wajah agak bingung. “Memang begitu rasanya pak”,jawabnya ringan. Gubrakk!! Yah dasar nasib, espresso kedua juga sami mawon dengan yang pertama. Kacau.. kacau balau rasanya.

Ah mungkin lagi apes nih. Sudahlah lain kali dicoba lagi. Total kerusakan malam itu kalau saya ga salah ingat sekitar Rp 106.000 untuk espresso dan beberapa roti termasuk baguette. Yah overall saya hanya puas dengan Panini-nya. Ukurannya pas buat saya, begitu juga dengan rotinya yang crispy karena di press. Paduan tuna pedas terasa begitu pas menutup rasa espresso yang kacau. Ah dalam hati saya berujar,”selanjutnya saya review Daily Bread yang di Ranch Market Pondok Indah hehehe siapa tahu kali ini mesin kopinya bisa di set”. Espresso oh espresso…

Cup Of The Year SCAA Show 2009

Akhirnya kesampaian juga ikut kumpul bareng nyicip kopi kopi Indonesia yang jadi kontestan Cup Of The Year SCAA Show 2009 ^^ acara kumpul kumpul yang benar benar menyenangkan.

Kemarin kita ngumpul di Etcetera Cafe, jl. Trunojoyo no.40 Bandung. Terus terang ini pengalaman pertama saya untuk kumpul bareng para peminum kopi dari milis JalanSutra tercinta.. sempet sih deg-degan..  tapi ternyata asik banget! Kita ngumpul dan ngobrol kaya udah kenal lama. Tempatnya juga Cozy banget, pasti balik lagi kesana deh hehe ^^ IMHO cuma musholla-nya aja yang kurang,, sempit dan ada kecoa bo’ merayap rayap saat ibadah magrib ^^’

Malam itu Kang Adi membawa 12 sampel kopi,, seharusnya ada 13 tapi sampel #4 tidak ada. Sampel dalam bentuk biji kopi yang sudah disangrai (roasted beans) itu digiling mendekati halus dengan sebuah Grinder. Sengaja dibawa Kang Adi untuk acara ini lho ^^ kemudian biji kopi yang sudah menjadi bubuk ditimbang dan disesuaikan takarannya untuk bisa diseduh diseduh dalam gelas. Semua dihitung bener bener biar semua kebagian. Berhubung kopinya terbatas.. hanya cukup untuk 10 orang.. maka ada beberapa sampel kopi yang harus di- share. Sample #7 dan sample #11 di-share dengan Kang Enrico yang kebetulan duduk di sebelah kanan saya dan kebetulan dia laki laki hehe jadi segelas dua bibir ga ada kata jijik hehe hajar bleh aja ;)

Kopi diseduh per 3 gelas.. para peserta bisa mencium aroma tiap kopi sebelum diseduh untuk mendapatkan kesan pertama. Kesan dari aroma tiap kopi ini kemudian ditulis oleh masing2 peserta di secarik kertas yang sudah disediakan panitia
(kang Adi dan mba Mia nih kayanya). Setelah diseduh ala kopi tubruk dan.. dicium lagi aromanya.. lalu di-sruput (naon nya basa endonesa na? Hehe ;p). Dibiarkan bermain dulu sebentar kopi-nya di lidah.. biar terasa tarian semua komponen rasa kopi. Hmmmhhh Ajaib!! Ternyata… Semua kopi punya kombinasi rasa dan aroma yang berbeda beda ^o^

Satu satu kita coba dari sample #1 sampai sample #13 (minus sample #4) diseling dengan break yang ditemani dengan aneka olahan kentang (ada french fries, ada kentang goreng dengan keju dan rosemary, plus kentang goreng berlapis saus tomat) agar perut tidak terlalu melilit. Wuihh ternyata ada yang aromanya kuat (paduan aroma kayu dan herbal) dan menebar janji surga (kalau bahasa Kang Enrico,”seperti Caleg..”) namun setelah dicoba rasanya ringan cenderung tidak
berkesan dengan aftertaste yang dominan pahit. Ada juga yang membuat kening berkerut.. membuat pikiran bekerja keras mengingat dan menerka “ini bau apa ya? Ini rasa apa ya?”. Momen dimana rasanya kita tahu namun tidak terlintas apa-apa di pikiran. Ada yang aromanya mirip sekali dengan roti gandum yang baru di-toast.. ada yang aromanya mirip jagung rebus.. juga ada yang aroma dan rasanya mengingatkan pada madu sumbawa dengan aftertaste yang manis menyenangkan (nah ini kopi jagoan saya hehe ^^)
Acara icip icip kopi yang dimulai pukul 7 malam ini pun harus berakhir padapukul 9 lewat. Tak terasa 12 sample sudah lewat berlalu dan masing masing peserta pun sudah menetapkan mana kopi “jagoannya”, kopi yang sesuai dengan
individual reference masing masing. Rencananya nama nama kopi akan dibuka senin nanti, siap siap aja ^^ (emangnya hasil ujian hehe). Penghujung acara ini diisi dengan obrolan ringan padat dan “kejutan” dari Mystery Host (yang baru dibuka identitasnya saat akhir) berupa sajian makanan (yang saya lupa tidak nanya apa namanya). Aftertaste kopi di mulut pun buyar setelah menyantap paduan antara kentang berlumur krim manis dengan tumis terong; timun(atau zucchini yah?); yang disembunyikan dengan manis dibawah steak. Mmhh yummy ^^

Saya menulis ini ditemani secangkir kopi yang biji kopinya saya dapat tadi malam dari kang Adi. Pelajaran yang saya ambil ternyata kopi tidak harus “Dark as Hell, Strong as Death, and Sweet as Love” seperti kata orang Turki. Ternyata
kopi itu abstrak dan tergantung kita untuk menafsirkannya. Benar benar suatu hal yang personal. Tafsir yang baik tentu saja butuh referensi yang baik. Nah disini rasanya saya harus berani menambah referensi dan terus belajar.
In the end of the day it’s not just a cup of good coffee, it’s the friendship that came out of it. Terima kasih untuk Kang Adi dan Mbak Mia, Pak Charles dan Ibu Inge (makanannya enak,pasti balik lagi bareng keluarga ^^), Pak Jeffry, Enrico dan.. semua yang dateng (saya ga sempet kenalan). Moga moga kita bisa kumpul lagi next time.

Daftar kopi yang dicoba malam itu ternyata :

# Asal Daerah Jenis
1 Sumatra Mandheling Organic
2 Flores Bajawa
3 Sumatra Juma Roba (Seribu Dolog)

4 -
5 Flores Flores Organic
6 Sumatra Sumatra Blend
7 Flores Blue Flores
8 Java Andungsari
9 Java Blue Java (Kayu Mas)
10 Sumatra Aceh Gayo
11 Sulawesi Toraja
12 Java Preanger
13 Bali Blue Moon (Kintamani)

Kopi-kopi tersebut ditanam diketinggian antara 1000 – 1800 m diatas permukaan laut, dengan proses pengolahan pasca panen semi wash atau wet hulling. Kesimpulan dari acara kemarin, yang menjadi favorit (dianggap paling enak)
adalah sample # 10, sementara yang dianggap paling gak asik adalah sample # 8. Review mengenai kopi kopi ini ada di tulisan selanjutnya ;)

Ini teh “Moffee”?

Tak terasa seminggu sudah Bialetti Brikka menemani saya. Semenjak jadi buah bibir di Cafe La Tazza tempo hari, saya bertekad mengungkap perbedaan caffe yang dihasilkan Moka dibandingkan dengan Brikka. Hari pertama dia menempati dapur saya, hari itu pula dia menemani saya menyaksikan semifinal Champions League saking kuat kopi-nya.

Brikka ukuran 2 cup ini saya dapat di Metro PIM1 setelah berburu di Metro
PS dan Best Denki Sency (belum sempet cek ke kelapa gading). Itu pun
barangnya tinggal 2 dan yang satunya cacat. Si mbak penjaga pojok Bialetti
menuturkan banyak barang tertahan di pelabuhan. Ditebus dengan harga Rp
729.000, lebih mahal dibanding Moka Express ukuran 2 cup, Brikka memang
menawarkan sensasi yang berbeda.

Kesimpulannya satu.. masih belum bisa menandingi espresso buatan Kang Adi. IMHO Brikka menghasilkan kopi yang mirip ristretto. Secangkir kopi dengan crema yang cukup menggoda dan flavour yang mendekati espresso. Alternatif yang cantik untuk menikmati kopi di rumah ketika espresso machine belum bisa menempati dapur anda. Jangan lupa siapkan biji kopi segar dan grinder yang baik, tanpa itu Brikka tak akan menghasilkan kopi yang ciamik ^^

Seminggu ini saya mencoba berbagai kombinasi jumlah air, jumlah bubuk kopi, ukuran bubuk kopi, jenis biji kopi dan api yang digunakan. Alhasil semakin banyak coba coba, semakin ingin lebih banyak coba coba lagi hehehe. The More You Know The Less You Know. Saya menyiapkan illy Whole Bean, illy Ground Coffee, Caswell Sumatra Lintong Whole Bean, Aroma Robusta Whole Bean untuk seminggu ini. Hasilnya.. tidak dibagikan memang.. namun saya tulis untuk dilaporkan pada CaffeLover hehehe ;)

Menggunakan Fine Ground Coffee tidak saya sarankan. Manual Brikka menyebutkan “Don’t use fine ground coffee for espresso..”, namun dasar
penasaran saya coba juga (gara gara liat Paul Basset dan beberapa video di
YouTube). Dua kali Brikka mengalami kebocoran akibat kurang rapat
mengunci. Sisanya berhasil. Namun seminggu saya coba coba, crema yang keluar sedikit padahal semua kombinasi jumlah air dan bubuk kopi sudah dicoba.

Crema yang generous justru muncul setelah menggunakan bubuk kopi yang lebih kasar. Hasil terbaik sejauh yang saya coba adalah bubuk kopi yang lebih
kasar dibanding untuk mesin espresso namun lebih halus dibanding untuk
dripper. Setting-an saya di grinder rumah adalah dua tingkat lebih halus
dibandingkan untuk coffee dripper. Ternyata ada maksudnya Bialetti bilang
jangan pakai fine ground coffee untuk espresso ;p manual-nya juga
menyebutkan untuk Crema yang optimum, air yang digunakan harus “5 mm below the notch”. Bener euy ternyata. Percobaan optimal sejauh ini muncul dari kombinasi : air segar 70 ml + 14 g bubuk kopi ^^ CMIIW.

Percobaan saya menggunakan whole bean dari illy, caswell dan aroma
menghasilkan bentuk fisik serupa. Crema kurang lebih 2-3 mili (diukur pakai
gelas kaca dari bodum yang dijual murah di kedai kopi Tjap Putri Duyung
hehehe, ukuran single shot sekitar 30 ml). Gula kasar cap Gulaku yang
ditaburkan sedikit diatasnya mampu bertahan beberapa detik sampai benar
benar ambles. Bentuk fisik serupa tak menjamin rasa yang sama juga.
Preference saya condong ke illy. Bukan yang lain tak enak lho.. mengutip
kata Kang Adi waktu cupping di kafe etcetera, “Ga ada yang ga enak, adanya cocok ga cocok..” (Yah begitu kurang lebih huehehe lupa persisnya euy).

Aroma yang dihasilkan illy lebih nendang, Bodynya mirip sirup, aciditynya
strong dengan aftertaste manis sepet kaya abis makan jambu batu. Overall
flavour-nya not bad at all. Saya lebih suka Brikka dibanding Moka Pot, IMHO
flavour-nya di atas Moka Pot. Inilah yang membuat saya kembali bingung
menyebut cairan hitam pekat ini namanya apa? Caffe a.k.a kopi? Ah saya ingat kang Irvan pernah bilang “Moffee!”, sambil tersenyum saya bergumam.. “ini teh Moffee?”

P.S : di situsnya illy, mereka menyebut seduhan moka pot sebagai moka coffee atau disingkat moffee ^^ (beda dengan Mocha ya). Bahkan mereka ternyata punya produk Ground Coffee khusus untuk moka pot dan punya punya moka pot lucu “Cuor di Moka” hasil kerjasama dengan Bialetti ^^

Icip-icip Kopi Aceh “Spesial”

Hari itu ada sms masuk, bunyinya “Lu,kopinya dah gw bw.loe di jkt/bdg?wiken ini gw plg ke bdg”. Itu Adi teman saya waktu SMA. Walaupun namanya Adi, teman saya ini bukan pria melainkan wanita hehehe karena nama lengkapnya juga Fitri Adi Anugrah. Beliau ini penulis aktif di jalansutra.. nah, kepada beliau ini saya memesan kopi. Bukan kopi biasa lho ;p karena kopi ini special menggunakan tambahan Vitamin “G”. Khusus dipesan dari satu kedai di Ulee Kareng. Pesannya pun harus 3 hari sebelum diambil hehehe

Ditebus dengan harga Rp 80.000, saya mendapatkan 1 kg kopi bervitamin ini. Semerbak harum rempah menyeruak ketika kantung “keresek” berlapis saya buka. Sebelum dibuka pun, mobil saya sudah dipenuhi aroma rempah dari kopi bervitamin “G” ini. Biasanya aroma kopi menelan aroma lainnya, seingat saya aroma durian pun bisa tertutup oleh aroma kopi. Anehnya, kopi didepan saya saya ini tertutup aromanya oleh harum rempah.

Tampilan kopi ini pun sangat “kasar”. Biji kopi yang sudah di-sangrai bersama dengan bahan tambahan “G” tampaknya dihaluskan tanpa menggunakan mesin. Kemungkinan besar ditumbuk sehingga ukuran butirannya pun menjadi “ekstra besar”. Lebih coarse dibandingkan untuk digunakan menggunakan French Press. Warnanya hitam gosong, pertanda gaya sangrai yang digunakan sama dengan gaya melayu atau cina selatan CMIIW.

Vitamin dalam kopi ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Bangsa di Asia Tengah dan Timur sudah mengenal sejak dulu kala. Bangsa Jepang mengenalnya sebagai campuran bumbu. Mereka menggunakannya semenjak zaman Jomon, sekitar 10.000 – 300 tahun SM, untuk membuat Shichimi (Tujuh Bumbu). Tanaman ini disebut Taima di Jepang. Taima adalah bahan utama membuat Onomi, nah Onomi ini yang dipakai membuat Shichimi Togarashi (lada merah bubuk yang rasanya pedas, biasa dipakai saat menyantap ramen). Kok bisa ya? Ternyata Jepang memang memberi izin khusus untuk menanam tanaman ini sebagai bahan makanan. CaffeLover di Tokyo mungkin bisa mencici makanan yang ada di Asa Restaurant (http://metropolis.co.jp/tokyo/742/restaurants.asp). Hidangan restoran ini semuanya berbahan vitamin G ;) bisa cek menunya di http://www.asanomi.jp/index.html

Bagaimana di Indonesia? Walau mengandung 8 asam amino esensial, kesalahpahaman tentang vitamin G ini sudah mengakar. Image-nya menjadi negatif akibat penyalahgunaan dengan cara dibakar daunnya. Dulu saat tinggal di Pangkalan Susu (dekat perbatasan dengan Aceh), ibu saya selalu bercerita tentang nasi yang ditanak beserta daunnya atau gulai yang menggunakan bijinya CMIIW. Rasanya sangat enak menurut ayah saya. Saya sih lupa hehehe cuma icip via kopi ;p mungkin nanti ada CaffeLover di Aceh yang bisa cerita lebih lengkap. Jadi bukan Jepang saja yang memakainya sebagai bumbu, sebagian orang Indonesia pun memakainya untuk bumbu.

Pusing menghabiskannya sendiri, kopi ini pun saya bagi ke Kang Adi. Secara tak sengaja, cupping pun dilangsungkan di kedai kopi Tjap Ikan Duyung. Kebetulan ada seminar tentang kopi yang rutin dilakukan saban Rabu sore dan saya diundang secara tak sengaja pula. Ceritanya beberapa hari sebelumnya saya ngobrol dengan salah satu pegawai kedai itu. Terlontar dari mulutnya komentar kurang baik tentang kopi hasil produksi salah satu roaster di Bandung. Obrolan mulai memanas karena dia bicara tanpa fakta. Ujung-ujungnya dia mengundang saya datang ke seminar kopi untuk bertemu coffee master-nya yang jadi juara dimana mana, katanya.. Wah boleh juga nih, nambah pengalaman. Saya ajak juga deh coffee master, Kang Adi hehehe :)

Ujung-ujungnya semua went well, malah Kang Adi dengan gaya persuasif-nya bisa “meracuni” kurang lebih 5 pegawai kedai itu untuk mencicipi kopi ini. Kang Adi meyakinkan mereka bahwa kopi G ini adalah kopi gayo organik hahaha ;) coffee master kedai itu yang ternyata saya kenal, juga ikut icip-icip. Seorang pegawai lainnya yang ikut mencicipi ternyata menjadi cukup sumringah, “wah ini enak kopinya, ada rasa coklat coklat gitu”, komentarnya. Sambil senyum-senyum dan malu-malu, dia tidak menolak ketika kita menawarkan kopi padanya untuk dibekal pulang.

Rasa kopi G yang diseduh sore itu rasanya berbeda dengan seduhan pertama yang saya coba di rumah. Dugaan saya mungkin karena penyimpanan yang kurang baik. Sore itu kopinya terasa lebih Light, aroma rempah sebelum diseduh menjadi lebih tajam dan perlahan tertutup bau kopi saat diseduh, acidity hampir tidak terasa dan flavournya mengisyaratkan kecocokan jika dipadu padan dengan susu kental manis. Aftertaste-nya tidak terlalu clean dan tidak terasa manis. Alhamdulillah tak ada rasa leng-lengan (melayang) seperti sebelumnya ^^’ hehehe

Malam itu ditutup dengan suguhan gratis berupa dua cangkir kopi sulawesi dan pelajaran slurping. Slurping ternyata gampang gampang susah. Melihatnya seperti mudah padahal ada tekniknya ;p lidah saya jadi terbakar dan sempat batuk batuk gara gara tidak menguasai tekniknya. Ah benar benar cupping tidak terencana yang berkesan. Cupping hari itu bahkan membuat coffee master kedai kopi tjap ikan duyung bersedia melakukan Ethiopian Coffee Ceremony, hari selasa besok. Seperti apa ECC ini? Kita tunggu tanggal mainnya.

P.S : FYI “G” stands for Ganja

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.